
SEMARANG – Ajang pameran properti terbesar di Jawa Tengah, Jateng Omah Expo 2025, berhasil menarik minat tinggi dari masyarakat. Digelar selama 10 hari di Mal Ciputra Semarang, mulai tanggal 15 hingga 26 Mei 2025, expo ini mencatat total transaksi penjualan rumah mencapai Rp29,6 miliar.
Dari total 102 unit rumah yang berhasil dijual selama pameran, mayoritas merupakan rumah subsidi, dengan jumlah 79 unit. Sementara sisanya sebanyak 23 unit merupakan rumah komersial non-subsidi. Capaian ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat akan hunian yang terjangkau masih sangat besar, khususnya di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Provinsi Jawa Tengah, Boedya Darmawan, menyampaikan bahwa pencapaian ini patut diapresiasi, mengingat membeli rumah bukanlah keputusan yang diambil secara spontan. “Kalau kita lihat dari angka, itu berarti rata-rata ada 10 transaksi rumah per hari. Ini sangat bagus karena keputusan membeli rumah itu tidak semudah membeli pakaian,” ungkapnya dalam sesi penutupan pameran bersama Forum Komunikasi Developer Jawa Tengah.
Namun demikian, Ketua Forkom Developer Jateng, Eko Purwanto, mengakui bahwa capaian tahun ini mengalami penurunan dibanding Jateng Omah Expo 2024 yang mencatat nilai transaksi hingga Rp45 miliar. Penurunan terutama dirasakan di sektor rumah komersial, yang terimbas oleh menurunnya daya beli masyarakat. Eko menambahkan bahwa dominasi rumah subsidi dalam expo ini menunjukkan pasar MBR masih menjadi ceruk terbesar yang perlu terus difasilitasi oleh pengembang.
Wilayah penyangga seperti Kendal, Demak, dan sekitarnya menjadi lokasi favorit masyarakat dalam mencari rumah subsidi. Harga yang lebih terjangkau dan akses yang relatif mudah menjadi pertimbangan utama para pembeli dalam memilih hunian. Kondisi ini mempertegas bahwa pengembangan properti di luar pusat kota memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.
Melihat tingginya antusiasme masyarakat, panitia penyelenggara berencana untuk menggelar pameran kedua di pertengahan tahun 2025. Tujuannya adalah mengejar target pembangunan 18.000 unit rumah subsidi di Jawa Tengah, sekaligus mendukung program pemerintah pusat dalam penyediaan 3 juta rumah bagi rakyat Indonesia.
